Cerita S3xs

Anonymous
614 x views • 3 years ago
Alya Dan Ivan
"Akua, akua, akuaa! Akua, Mijon, Sprit, Panta! Yang aus,
yang aus!" Teriak beberapa pedagang asongan dengan
intonasi khas, menyelinap di celah barisan mobil-mobil
yang tak bergerak. Pagi sudah tak lagi terlihat seperti pagi;
matahari yang meninggi serta bising dan panas dari
kendaraan membuatnya seolah sudah tengah hari.
Sepasang muda-mudi tampak bengong di dalam Honda
Jazz merah, menatap kosong pantat-pantat kendaraan
yang berjajar di hadapannya. Lagu Ain't It Fun-nya
Paramore terdengar mengalun pelan di dalam kabin yang
dingin ber-AC.
"Udah sampe di mana kita?" Tanya Alya yang duduk di
sebelah kiri kemudi.
"Udah gak usah becanda." Jawab adik Alya, Ivan yang
memegang setir.
"Idih sewot." Tukas Alya sambil mengambil iPad putihnya
di samping tuas rem tangan.
"Abisnya, udah empat jam kita di sini gak kemana-mana."
Jawab Ivan dengan ketus. "Kak Al sih, coba tadi kita
berangkat pagi banget bareng Papah, pasti gak gini
ceritanya." Pungkasnya.
"Ya maaf." Jawab Alya. "Banyak pesenan, cong."
Lanjutnya sambil mengoprek tabletnya itu. Keduanya
terpaksa pulang mudik terlambat setelah Alya memaksa
adiknya berbelanja oleh-oleh terlebih dahulu.
Alya terlihat mengenakan tanktop double layer berwarna
putih persik dan hotpants blue jeans, sesuai dengan
perangainya yang super cuek tapi selaras dengan
wajahnya yang cantik dan kulitnya yang putih. Sementara
Ivan hanya mengenakan kaos biru kadet dengan jeans,
menunjukkan tipe cowok yang santai. Kedua kakak-
beradik itu hanya terpaut usia 2 tahun.
Ting tong ting tong ting tong!
"Hape lu tuh, angkat." Perintah Alya.
Ivan mengambil handphone-nya, melihat tapi kemudian
mematikan panggilan itu.
"Cieeeh dirijek." Sindir Alya. "Siapa siiiih? Fans lu, yaa?"
Cibirnya.
Ivan tak menggubris sindiran kakaknya itu.
"Kenapa sih lu, Van, udah kelas dua belas masih belum
punya pacar?" Tanya Alya, heran dengan adiknya ini.
Padahal menurut sepengetahuannya, cukup banyak cewek
-cewek yang menyukai Ivan.
"Jangan dibahas laah." Jawab Ivan, mengelak.
"Eh, seriusan. Kenapa?" Tanya Alya lagi.
Ivan tak meresponnya. Sesungguhnya, standar cewek
buat Ivan sudah terlanjur tinggi dipatok oleh kakaknya
sendiri. Punya kakak yang cantik, fashionable, dan rajin
merawat diri membuatnya susah mencari cewek yang
mendekati itu di sekolahnya. Beberapa kali Ivan pernah
mendekati cewek tapi tak satu pun yang sesuai dengan
harapannya.
"Ganteng sih cukup, rapi iya, bersih iya. Apa lu kurang
nyekil, ya?" Alya mencoba menganalisa problem adiknya.
Menurutnya, adiknya itu memang tak cuma santai seperti
dia tapi juga terlalu pasif terhadap cewek.
Ivan enggan merespon pertanyaan kakaknya itu. Jelas
saja, melihat kendaraan macet yang sangat panjang, bisa
dipastikan sebuah pembicaraan akan sangat panjang
juga. Ivan tak mau jika tentang dirinyalah yang dibahas
sepanjang sisa perjalanan.
"Yah, dianya cuek." Kata Alya. "Ya udah, gue tidur aja.
Bosen." Katanya lagi, menyimpan iPad-nya. Alya menarik
tuas seatback dan mendorong sandaran joknya itu ke
belakang.
Ivan tak mempedulikan ocehan kakaknya itu dan
membiarkan dirinya ditinggal tidur sendirian. Ivan
menengok jam tangan yang dipakainya, sudah lebih dari
empat jam kendaraan mereka tersangkut kemacetan arus
balik.
Tidak nyaman dengan posisi tidurnya, Alya menaikkan
kaki kirinya ke dashboard. Mata Ivan terlihat menyudut,
mengintip sepasang kaki mulus yang membentang di
sampingnya. Ivan memang sudah sangat terbiasa melihat
kakaknya memakai shortpants atau miniskirts, atau
pakaian mini lainnya tapi sepertinya darah kelelakian
remaja puber itu membuat dia tak pernah bosan dengan
pemandangan yang 'mengundang' itu. Usia mereka
memang tak begitu jauh tapi tentu saja soal fisik Alya
sudah jauh lebih dulu matang dari Ivan -dan itulah yang
sering menjadi masalah buat Ivan. Apa yang Ivan lihat kali
ini adalah kaki dengan jari-jari kaki yang terawat, betis
yang kencang, dan paha ramping yang bersela, semuanya
dia lihat di sepasang kaki jenjang yang kulitnya halus
mulus dan putih bersinar bak mutiara. Sering kali Ivan
hanya bisa menelan air liurnya jika mendapati keindahan
seperti itu, terlebih jika dia mendapatkan bonus, seperti
yang sedang diintipnya kali ini.
Alya mengenakan jorts, celana jeans yang super pendek
dengan jumbai-jumbai denim tak berkelim. Celana yang
terlalu pendek yang hanya sekedar menutupi 5-7
sentimeter bagian paha Alya. Kaki kanannya yang terlipat
dengan lutut keluar itu membuat selangkangannya
membuka, menyisakan celah pada lubang kaki celana
yang mendekati bagian selangkangannya. Melihat
kakaknya sedang memejamkan matanya, Ivan
menjulurkan pandangannya, mengintip permukaan
terbuka yang memperlihatkan sebagian lapisan celana
dalam dan permukaan selangkangan Alya. Sekali pun Alya
memakai celana dalam putih mint tapi permukaan kulit
selangkangan Alya yang putih seputih susu masih terlihat
kontras dengan warna celana dalamnya itu. Bonus-bonus
seperti ini yang selalu membuat Ivan kecil terbangun.
Walau pun Alya adalah kakaknya sendiri, Ivan sudah lupa
kapan terakhir kali melihat kakaknya bugil, membuatnya
justru selalu tertarik dengan bagian-bagian tubuh yang
selalu disembunyikan Alya.
"Van." Kata Alya.
"Y-ya?" Tanya Ivan terkejut.
"Turunin AC-nya dong, gue takut beser." Jawab Alya.
"Oh. Iya." Jawab Ivan sambil memutar cakram temperatur
AC-nya.
---
"So am I wrong?
For thinking that we could be something for real?
Now am I wrong?
For trying to reach the things that I can't see?
But that's just how I feel,
That's just how I feel
That's just how I feel.."
Lagu Nico & Vinz terdengar menggetar dari speaker satelit
dan subwoofer di dalam kabin kendaraan itu, seirama
dengan ketukan telunjuk Ivan pada permukaan setir yang
dipegangnya. Sudah dua jam berlalu sejak Alya tertidur
tapi angka odometer di panel instrumen masih belum
banyak bertambah, atau dengan kata lain jalanan amat
sangat macet.
"Van." Alya terbangun dari tidurnya. "Gue pengen pipis."
Katanya, setengah bergumam.
"Euh. Bentar." Jawab Ivan sambil celingukan, melihat
celah buat menepi di tengah-tengah kemacetan itu. "Ngga
bisa, kak Al." Kata Ivan, melihat mobil yang disetirnya
persis berada di tengah-tengah.
"Aduuuh, gue gak tahan." Kata Alya sambil meringis
menahan perutnya. "Van??" Desak Alya, kebingungan tak
punya solusi.
"Emm, emm." Ivan terlihat ikut bingung. "Gimana dong?
Mau pake botol?" Ivan juga tampaknya tidak tahu harus
berbuat apa.
"Aduuuh. Lu pikir gue cowok." Protes Alya. "Aaaaaaah!
Aduh, aduh!" Teriak Alya sambil berdiri, kemudian loncat
ke jok belakang. Alya terlihat terdiam untuk beberapa saat
setelah duduk di belakang.
"Van. Koper gue di mobil Papah, ya?" Tanya Alya
kemudian sambil nungging ke belakang, mengecek
bagasi.
"Lah situ naronya di mana?" Ivan balik bertanya sambil
mengintip kakaknya dari cermin dalam. "Hah? Kak Alya
ngompol??" Teriak Ivan, melihat jeans pendek kakaknya
itu berbayang basah pada bagian bawahnya. "Hahaha!"
Lanjutnya sambil mentertawakan kakaknya.
"Ih sialan malah ngetawain." Balas Alya kesal. "Nih,
makan!" Katanya dari belakang sambil mengelapkan
tangannya yang basah oleh air kencingnya ke wajah Ivan.
"Aaaah, bau memeeeeeek!!!" Teriak Ivan sambil segera
mengambil tisu dan mengelap mukanya, kemudian
melempar tisunya ke belakang ke arah Alya.
"Enak aja dibilang bau memek! Memek gue kagak bau!"
Alya kembali mengusapkan tangannya ke wajah Ivan.
"Mmh! Bauuu!" Ivan kembali menyeka wajahnya dengan
tisu.
"Bau apa sih lu!?" Tanya Alya kesal, merasa difitnah
dibilang bau seperti itu. "Van." Kata Alya kemudian. "Koper
gue di mobil Papah, gue gak ada celana cadangan."
Rengek Alya.
"Aku juga gak bawa apa-apa." Jawab Ivan. "Lagian pantat
kak Al kan gede, celanaku gak bakalan ada yang muat."
Ivan kebingungan.
"Ada supermarket gak?" Tanya Alya sambil melihat-lihat
ke samping jalan.
"Nggak lah, ini masih hutan rimba." Jawab Ivan, menunjuk
rumah-rumah yang sepi dari pertokoan.
"Lebay lu, ah." Kata Alya. "Emang di mana kita?"
"Cijapati." Jawab Ivan. "Mau dikeringin pake AC gak
celananya?" Tanya Ivan menawarkan solusi. Kepala Ivan
mendadak penuh warna, membayangkan kakaknya
melepas celananya di mobil.
---
"Nih." Kata Alya sambil mengambil Minute Maid Pulpy
Orange dari kantong plastik yang dibawanya dari
Indomaret.
"Thanks." Ujar Ivan yang mendadak terlihat hanya
mengenakan singlet putih. "Dapet celananya?" Tanyanya
kemudian.
"Enggak, cuma ada cangcut doang." Jawab Alya sambil
menunjukkan bungkusan celana dalam yang baru
dibelinya. "Nih." Alya melempar kaos Ivan yang tadi
dipakai untuk menutupi celananya yang basah.
"Jangan coba-coba bilang bau memek!" Teriak Alya,
melihat Ivan yang akan membuka mulutnya setelah
mencium-ciumi kaosnya. "Kayak lu tau aja bau memek
kayak gimana." Protes Alya sambil melangkah ke
belakang. Ivan melirik Alya yang melangkah di
sampingnya, menatap tak berkedip paha yang putih dan
mulus itu.
"Tau lah, kayak bau pesing gitu, kan." Jawab Ivan
membela diri.
"Gue buka celana, awas lu kalo nengok." Ujar Alya sambil
menjulurkan tangannya ke spion dalam dan memutarnya
ke arah samping, khawatir Ivan mengintipnya. "Bau
pesing? Kata siapa? Sok tau." Protesnya. "Memek bocah
kali, Van, bau pesing." Pungkas Alya sambil beranjak
persis ke belakang jok Ivan.
Jantung Ivan mendadak berdegup kencang mengetahui
kakaknya itu akan mengganti celana dalam. Sepertinya
Ivan tak ingin kehilangan momen itu tapi dia tak memiliki
cara untuk memanfaatkannya. Dia berpikir keras untuk
bisa mengintipnya tanpa sepengetahuan Alya. Tapi sia-
sia, tak satu pun keluar ide dari kepalanya.
"Nih, jemurin." Kata Alya sambil menjulurkan hotpants-nya
itu ke depan.
Ivan mengambilnya dan bermaksud meletakkannya di
dashboard. Pikirannya semakin kacau, terbayang
kakaknya itu hanya menggunakan celana dalam di
belakang sana. Karena dashboard cukup jauh, akhirnya
langkah ini akan dia coba gunakan sebagai modus untuk
memalingkan wajahnya ke belakang. Tapi belum sempat
Ivan bergerak,
"Nih, ini wangi memek beneran." Kata Alya tiba-tiba sambil
menyentuhkan telunjuknya ke hidung Ivan, setelah
sebelumnya Alya menyelipkan telunjuknya ke dalam
celana dalam yang baru saja dipakainya. "Mana bau
pesing? Itu namanya wangi." Ujarnya. Seolah terhipnotis,
Ivan terpaku dengan aroma yang keluar dari telunjuk Alya.
Aroma wangi segar yang bercampur sedikit wangi lembab
yang khas. Wangi yang sangat familiar buat Ivan.
Sudah sejak masuk SMP Ivan menjadi perompak celana
dalam. Celana dalam siapa lagi kalau bukan punya
kakaknya? Sejak kakaknya berubah menjadi seorang
remaja putri yang menarik, hal-hal pribadi milik Alya selalu
menjadi magnet perhatiannya. Awalnya hanya sekedar
ingin tahu, lama-lama menjadi candu dan inspirasi
pelampiasan hasrat pubertasnya. Bra, miniset, kaos
dalam, celana dalam, celana pendek spandex, dan segala
pakaian yang meninggalkan aroma khusus dari tubuh
kakaknya. Nyaris semua aroma bebauan, dari wangi
artifisial; parfum, cologne, lotion, sampai wangi alami
pengaruh hormon estrogen dalam tubuh kakaknya;
keringat, ketiak, apalagi bau dari celana dalamnya.
Wangi lembab yang barusan tercium itu mengingatkan
Ivan pada celana dalam Alya yang biasa dicurinya. Wangi
yang biasanya cukup kuat pada bagian tengah celana
dalam yang biasanya disertai noda, atau yang masih
disertai cairan lengket jika Ivan mengambilnya tidak lama
setelah dipakai Alya. Tapi ada hal yang Ivan sadari
berbeda dengan apa yang selama ini dia cium, kali ini
bukan hanya lembab tapi juga wangi fresh yang
menyegarkan. Wangi yang tak pernah dia temui
sebelumnya.
"Heh!!! Kenapa jadi ngelamun!!" Teriak Alya. Alya yang
bawahannya hanya mengenakan celana dalam yang baru
dibelinya itu loncat kembali ke jok di samping Ivan. Tapi
sial buat Ivan, sebelum dia sempat melihat bagian terbuka
milik kakaknya, Alya lebih dulu mengambil kaos Ivan yang
belum sempat kembali dia kenakan, dan secepat kilat
menutupkannya pada pahanya. Alya melihat ke
sekelilingnya, memastikan tak ada orang dari kendaraan
lain yang melihatnya tadi. "Kita sambil melipir aja, Van,
cari toko baju. Kalo macet terus, gue pasti perlu celana.
Tapi kalo lancar sih gak apa-apa." Pesan Alya.
Ivan masih terlihat bengong, tak merespon omongan Alya.
"Eh, kok lu kayak yang horny, Van?" Tanya Alya keheranan
setelah melihat wajah Ivan yang mendadak cerah. Pupil
mata Ivan terlihat melebar namun kelopak matanya
menyempit sayu, alis matanya turun, Ivan seperti sedang
di bawah pengaruh obat penenang.
Ivan yang masih tak menjawab terkejut ketika tiba-tiba
saja Alya mengulurkan tangannya memegang bagian
selangkangannya.
"Iiiih, lu horny sama gueeeeee???" Teriak Alya histeris
menemukan batang kelamin Ivan tegak mengeras.
"Kak Alya!!" Teriak Ivan, melotot ke arah tangan Alya yang
persis menekan kemaluannya. Kendati protes, Ivan tetap
membiarkan tangan Alya menyentuh kemaluannya, tak
bisa berbohong dengan kebutuhan biologis tubuhnya.
"Kok bisa, Van?" Tanya Alya. Alya sendiri tidak menarik
kembali tangannya. Diam-diam dia terkejut mendapati
batang kejantanan adiknya itu terasa besar dan tebal. Alya
sendiri tak ingat kapan terakhir kali dia melihat kemaluan
Ivan. Namun yang pasti, ukurannya sekarang jauh lebih
besar dari yang dia kira. Awalnya Alya tidak membuat
gerakan apa-apa tapi karena kepenasarannya, Alya refleks
menggerakan tangannya maju hingga ke ujung akhir
kepala penis Ivan dan kemudian mundur hingga pangkal
batangnya. Alam bawah sadar Alya cukup penasaran
dengan ukuran penis Ivan yang sesungguhnya. Tapi hal itu
diterjemahkan lain oleh Ivan. Ivan yang kemaluannya
sudah 'ready' itu menggelinjang sedikit, mendapatkan rasa
nikmat dari pergeseran tangan Alya.
"Eh sori, gue gak maksud." Ucap Alya, melihat adiknya
terlihat keenakan dengan gerakan tangannya. Alya tak
ingin hal itu disalah-artikan, dia pun menarik kembali
tangannya.
Tak pernah terpikirkan dalam benak Alya jika adiknya bisa
terangsang olehnya, bahkan bisa menerima sentuhan
darinya. Alya sendiri sudah membuang jauh ketertarikan
fisik dengan adiknya, sekali pun tak bisa disangkal oleh
tubuhnya jika dirinya juga sedikitnya menikmati hal-hal
seperti itu. Walau pun Alya lebih dewasa dan lebih
memahami arti dari hubungan adik-kakak tapi terkadang
refleks dari tubuhnya yang penasaran membuatnya tak
sadar. Tak jarang Alya mendapati dirinya ngobrol dengan
Ivan tanpa alasan yang jelas ketika Ivan pulang bermain
futsal padahal hanya untuk sekedar menghirup wangi
keringat maskulin Ivan atau ketika Ivan selesai mandi,
Alya tak sadar jika dia sering sekali mengajak Ivan
bercanda hanya untuk melihat dada Ivan yang bidang atau
melirik pantat Ivan yang hanya berbalut handuk. Tapi
semua hanya sejauh itu, Alya masih cukup sadar untuk
tidak terjebak lebih dalam. Terkecuali hari ini, Alya cukup
terpesona dengan batang kemaluan Ivan yang sejak
sekian tahun baru disadarinya kembali.
"Lu kok kayak yang keenakan." Ujar Alya. Lagi-lagi Alya tak
sadar tangannya telah kembali memegang kemaluan Ivan.
Bukan hal yang diinginkan Alya sama sekali tapi itu tetap
terjadi di luar kendali akal sehatnya.
Ivan masih tetap terdiam mendapati tangan Alya kembali
menyentuhnya. Bukan pengalaman pertamanya memang,
penisnya disentuh cewek bukanlah hal yang aneh karena
Ivan juga tak jarang digoda atau menggoda cewek-cewek.
Namun usapan tangan Alya diluar dugaannya, jiwa
kelelakiannya bergejolak, bukan saja karena Alya adalah
kakak kandungnya sendiri tapi juga karena selama ini Alya
adalah sosok cewek yang selalu menjadi favoritnya.
Sosok mustahil yang hanya bisa Ivan bayangkan dalam
khayalannya, bukan dalam dunia nyata.
"Ini enak?" Tanya Alya sambil menatap mata Ivan yang
terlanjur terbuai gairah, jempol tangannya mengusap-usap
bagian leher kemaluan Ivan yang masih terlapisi jeansnya.
Ivan mengangguk, tubuhnya yang haus akan pelampiasan
itu tak bisa berbohong.
Alya melihat ke luar, mengecek jika orang dari kendaraan
lain bisa melihatnya. "Sejak kapan punya lu jadi gede gini,
Van?" Tanya Alya.
"Sejak teteh susunya gede. Haha." Jawab Ivan sambil
bercanda.
"Haha!" Alya tertawa cukup keras, mengingat hal itu
sangat logis. "Jangan-jangan lu suka sama tetek gue ya?"
Tanya Alya memancing.
"Iya lah. Punya kak Alya gede." Jawab Ivan jujur.
Alya tersenyum merasa tersanjung. "Van." Kata Alya
kemudian. "Jangan mikir yang aneh-aneh dulu, ya." Ujar
Alya mengantisipasi sesuatu. "Liat, ya? Penasaran." Pinta
Alya sembari menunjuk kemaluan Ivan.
Ivan tentu saja mengangguk setuju, cowok mana yang
mau menolak cewek minta izin melihat anunya? Ivan
melihat sekelilingnya, memastikan mereka berada di
situasi yang aman. Reflektor film di jendela kendaraannya
sudah dia ketahui membuatnya aman dari intipan orang di
luar, terkecuali dari jendela bagian depan. Namun tak ada
kendaraan yang memiliki tinggi signifikan untuk mengintip
mereka dari depan.
Alya pun membuka kancing dan menurunkan ritsleting
celana Ivan. Kemudian dia menarik celana dalam yang
menghalangi kemaluan Ivan. Alya tampak takjub melihat
benda tegang berurat yang ternyata cukup besar, lebih
besar dari yang Alya pikirkan dan yang pernah dia lihat di
jaman dahulu kala. Bukannya puas setelah melihat itu,
Alya justru merasa horny karenanya.
Dua adik-kakak ini nampaknya masing-masing sudah
cukup tergugah secara seksual tapi tak satu pun yang
menunjukkan sinyalnya terang-terangan. Alya sendiri bisa
berbuat sekehendaknya karena merasa dia yang paling
tua tapi tetap saja dia terlalu gengsi untuk
memperlihatkan itu secara terbuka. Sementara Ivan
bersikap sebagaimana seorang adik seharusnya, dia tak
berani berinisiatif apa pun, khawatir menjadi salah di mata
kakaknya. Keduanya merasakan dorongan birahi yang
sama namun keduanya juga sama-sama tak ingin hal ini
menjadi sumber bencana.
Ivan diam saja ketika Alya meraba-raba urat-urat dan
renjulan-renjulan samar di penisnya. Sentuhan jemari
lembut kakaknya dirasanya bak belaian bidadari yang
membuai hasratnya. Alya sendiri rupanya sudah terlalu
terangsang.
"Lu beneran belum punya pacar? Belum pernah begini-
beginian sama cewek?" Tanya Alya bermodus.
Ivan menggeleng, berbohong. Berharap besar yang
dilakukan kakaknya itu tak berhenti sampai di situ.
"Kalo ini?" Tanya Alya sambil kemudian menjulurkan
lidahnya dan menjilati leher kemaluan Ivan. Alya
menengok Ivan kembali, menanti dengan cemas reaksi
Ivan.
Ivan masih menggeleng dengan tenang padahal dalam
hatinya Ivan begitu terkejut kakaknya sendiri ternyata
cukup berani melakukan itu.
Sadar jika sekenarionya sukses, dalam hal ini apa yang
dilakukannya bisa diterima dengan positif oleh Ivan, Alya
membuka mulutnya dan memasukkan kepala penis Ivan
ke dalamnya. Ivan yang masih terkejut tapi senang terlihat
terpejam, menikmati hangat mulut kakaknya itu. Sentuhan
lidah yang basah di dalam mulut Alya membuatnya
terdiam nikmat, terlebih ketika mulut kakaknya itu
menghisap-hisap dan menyedot-nyedot kemaluannya.
Ivan pun refleks menarik tuas pengatur jarak duduk
hingga joknya lebih mundur, menyisakan ruang yang
cukup banyak untuk kakaknya.
Alya menggerak-gerakkan mulutnya, menarik-narik
kemaluan Ivan keluar-masuk mulutnya. Terlanjur
terangsang, Alya meraih tangan Ivan dan menyelipkannya
pada baju Ivan yang menutupi pahanya. Ivan merasakan
tangannya menghampiri permukaan yang hangat, bagian
selangkangan Alya yang hanya berlapis celana dalam.
Melihat adiknya tidak cukup ahli beraksi di sana, Alya
mencoba membantu tangan Ivan tiba di lokasi yang
sangat dia inginkan.
"Mhh.." Alya terdengar melenguh, mengarahkan jemari
Ivan pada klitorisnya tapi mulutnya pun tak berhenti
menghisap kemaluan Ivan.
"Van." Ujar Alya, berhenti melakukan aktivitasnya. "Kamu
ngerasa enak, gak?" Tanya Alya.
Ivan terkejut mendengar kakaknya menggunakan
panggilan 'Kamu', membuat dirinya serasa lebih dekat
dengan Alya. Ivan berpikir, mungkin karena kakaknya ini
sudah cukup terangsang. Tanpa ragu-ragu Ivan
mengangguk.
"Kayaknya kita harus parkir." Kata Alya.
---
"Van." Ucap Alya yang sudah duduk di belakang dengan
wajahnya yang sudah sayu, merentangkan tangan
menyambut Ivan yang beranjak menuju ke arahnya. Ivan
melangkahkan kaki ke belakang tanpa bisa bersabar lagi,
kakaknya yang cantik itu sudah duduk dengan bawahan
celana dalam yang sudah tak terhalangi apa pun lagi.
Siang hari yang terik tampaknya tak begitu terasa oleh
kedua insan di dalam mobil yang ber-AC itu. Kendaraan
mereka terparkir di depan sebuah pabrik garmen yang
terlihat sepi. Kendaraan-kendaraan lain tampak masih
berbaris di sepanjang jalan itu. Sepasang adik-kakak yang
sedang dibakar gelora itu tampaknya sudah terlanjur
bernafsu. Tak peduli lagi dengan sekelilingnya, Alya sudah
tak bisa lagi menahan-nahan hasratnya, sementara Ivan
tentu tak ingin menyia-nyiakan kesempatan di pelupuk
mata.
"Yakin kak Al kita ga bakalan apa-apa?" Tanya Ivan yang
sudah duduk itu celingukan melihat ke luar. Jendela-
jendela belakang kendaraan mereka memang cukup
gelap, tak mungkin terlihat jika selintas lalu tapi tetap saja
Ivan khawatir jika ada orang yang betul-betul mencurigai
mereka dan mengintipnya ke jendela.
"Tenang, Van. Mau telanjang pun gak bakalan ada orang
yang percaya kita berbuat aneh. Lagi pula siapa yang
berani marahin adik-kakak cuma gara-gara gak pake baju,
palingan mereka yang malu duluan." Jawab Alya
menenangkan. Alya menarik celana Ivan turun hingga lutut
Ivan, lalu kembali menghisap batang kejantanan Ivan yang
sudah menjulang.
Tak tahan dengan penis yang tegap berurat itu, Alya
melepas celana dalamnya. Ivan mencoba bersikap tenang
sekali pun untuk kali pertamanya dia melihat
selangkangan Alya yang putih tak berpenghalang. Rambut
kemaluan kakaknya itu terlihat rapi dan enak dipandang.
Jantung Ivan berdegup kencang ketika paha yang jenjang
itu melangkahi dirinya. Sejujurnya, ini adalah pengalaman
berhubungan intimnya yang pertama kali. Tapi gugupnya
itu sirna ketika Alya membuka pakaian luar dan branya.
Kegugupan Ivan terbius oleh dua benda indah yang
menggunung di hadapannya. Dua payudara yang kencang
itu bak dua lemon besar yang kenyal dan berisi. Putingnya
menguncup dan tegang, membuat gila siapa pun yang
melihatnya.
Alya bertumpu pada kedua lututnya di jok, mengangkangi
Ivan yang duduk. Dia meraih benda tegak milik Ivan dan
mengeluskannya pada permukaan bibir kemaluannya.
Ditempatkannya batang ber-helm itu pada sela bibir
kemaluan Alya yang sudah merekah itu. Alya mencoba
menggoyangkannya, memutar-mutarnya, liang
senggamanya yang belum cukup basah itu membuat
kemaluan Ivan terasa seret.
"Aaah." Desah Alya ketika kepala dan batang penis Ivan
melesak, menyelinap masuk mengganjal liang vaginanya.
Ivan terpejam, keperjakaannya telah hilang dengan cara
yang sangat menyenangkan. Ivan begitu menikmati
denyut-denyut kenikmatan yang terhantar dari batang
kemaluannya. Dia merasakan batang kemaluannya
terhisap oleh rongga panas yang sempit yang dipenuhi
oleh dinding-dinding yang empuk dan lembut. Baru
disadari olehnya jika berhubungan intim itu tak ada
bandingannya dengan onani.
"Pelan aja ya? Biar mobilnya gak goyang." Ujar Alya sambil
mencoba menggerakan pantatnya turun-naik. "Enak gak,
Van?" Tanya Alya.
Ivan hanya mengguk. "Kak Al?" Ivan bertanya balik.
"Banget. Emmh." Jawab Alya sambil mendesah. "Tau gini
dari dulu, Van. Ahh." Desahnya kemudian. Alya memang
tak mengira jika batang kemaluan yang selama ini selalu
ada di rumahnya itu sangatlah nikmat. Batang kemaluan
Ivan yang menyeret-nyeret dinding vaginanya
dirasakannya seolah belaian angin musim semi, mengelus
dan memijatnya dengan penuh kenikmatan.
Alya mengambil tangan Ivan yang masih malu-malu,
kemudian menyentuhkannya pada dua payudara yang
kedua ujungnya sudah tegang itu. Ivan yang memang
terlalu takut merusak suasana untuk melakukan sesuatu
itu begitu kegirangan mendapat izin untuk memegangi
buah dada kakaknya yang indah itu. Ivan
menggenggamnya, mengusapnya, mengelusnya, dan
meremasnya. Alya hanya terpejam menikmati dua
stimulasi yang nikmatnya minta ampun itu.
"Van." Ujar Alya berbisik sambil menggerakkan pantatnya
penuh dengan perasaan. Alya menegakkan badannya,
mengarahkan kedua payudaranya persis di wajah Ivan.
Lalu dia mengusap lembut rahang Ivan dan menarik leher
Ivan maju.
Ivan tahu apa yang diingikan kakaknya. Tanpa basa-basi,
Ivan menghisap puting payudara Alya.
Cukup lama keduanya saling berpacu kenikmatan, sekali
pun samar kendaraan yang mereka naiki itu sedikit
bergoyang tapi tak begitu terlihat untuk orang lain.
"Ahhh." Alya kembali mendesah, merangkul Ivan dengan
cukup kencang dan menekan payudaranya ke wajah Ivan.
"Aku, emhhh." Desah Alya sambil menikmati gesekan di
bawah sana. Beberapa saat kemudian, Alya terlihat
memperdalam dan memperlama gerakannya. "Ahhh.
Ahhh." Desah Alya dengan rangkulan yang kian kencang
melilit tubuh Ivan. Jemari Alya kemudian terlihat meremas
-remas apa pun yang ada di sekitarnya. Alya tak bisa
berpikir banyak, kecuali menikmati pohon kenikmatan
yang tumbuh kian tinggi, kian tinggi, dan semakin tinggi.
Rasa nikmat bermunculan bak kuncup bunga yang
menanti untuk mekar.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaahh!" Alya menegakkan
kepalanya, lehernya terlihat berurat, pantatnya menancap
dalam-dalam menghisap batang kemaluan Ivan. Alya
terpejam, bunga-bunga orgasme yang akhirnya mekar itu
seolah beterbangan tertiup angin musim semi yang
menerbangkan jiwanya. Bunga-bunga nikmat itu terbang
berhamburan dari ujung-ujung syaraf yang tertanam pada
organ-organ di sekitar selangkangannya.
"Hahhhh. Hahh." Alya berdiam sejenak, badannya
melunglai, pelukannya mengendur.
Ivan masih saja terdiam menikmati hisapan dan gesekan
dinding kemaluan Alya. Pengalaman pertamanya ini
membuatnya tidak cukup awas dengan bahasa intim
tubuh kakaknya, Ivan bahkan tak menyadari jika Alya baru
saja orgasme. Namun Alya sepertinya memahami ini.
Ingin membalas kenikmatan yang tadi diperolehnya, Alya
dengan hati-hati mempercepat gerakannya.
Ivan yang masih memegangi dan meraba-raba buah dada
kakaknya itu terkejut merasakan kenikmatan dari
goyangan pantat Alya yang bertambah. Kemaluannya
terasa menebal, denyut-denyut kenikmatan mulai terasa
kian memuncak. Seperti roket yang sedang membawanya
terbang ke angkasa, kian lama kenikmatan itu kian
bertambah tinggi, kian rapat gesekan dari Alya kian
bertambah tinggi kenikmatan yang dihampirinya. Alya
tahu bahasa tubuh adiknya mengindikasikan roket yang
akan segera meledak.
"Jangan dikeluarin di dalem, ya." Pinta Alya berbisik.
Ivan mendengarkannya dan kembali fokus pada
kenikmatan yang kian memuncak itu, dan bum!
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaahh!" Ivan serta-merta
mendorong Alya, melepaskan diri dari hisapan liang
senggama Alya. Dia melenguh dan mengejang,
membiarkan roketnya itu meledak-ledak, menyemburkan
cairannya dengan penuh kenikmatan. Alya beralih ke
samping Ivan dan membantunya dengan memijat-mijat
penis Ivan.
"Enak gak, Van?" Tanya Alya, melihat cairan yang meleleh
dari batang kemaluan adiknya.
"Baru kali ini ngerasain ML, enak banget ternyata." Jawab
Ivan sambil tersenyum lebar, memperlihatkan giginya,
ekspresi wajah yang sangat senang. "Hahh." Desahnya,
menghela nafas penuh kelegaan.
"Hah?" Alya sepertinya terkejut. "Jangan-jangan tadi sebelumnya kamu masih perjaka?" Tanya Alya.
Ivan mengangguk, lagi-lagi terlihat senang.
"Iiih kamuuuuuuu, kenapa gak bilang-bilaaaaang!!" Jerit
Alya tersenym sambil mencubit pipi Ivan. "Tau gitu kita
pergi aja ke hotel, biar lebih spesial." Ucapnya kemudian.
"Makasih, ya. Kamu juga cowok pertama yang aku
perawanin." Tutur Alya tersenyum sambil mencium kening
adiknya.
"Hehe, iya. Gak apa-apa kok ke hotelnya lain kali." Jawab
Ivan sambil melirik kakaknya dengan genit. Ivan terlihat
bahagia dengan sikap kakaknya yang jauh lebih baik dari
biasanya yang kasar dan cuek.
"Iiih kamuuuuuu!" Alya kembali mencubit pipi Ivan. "Udah,
nyetir sono! Biar cepet nyampe." Teriak Alya. "Di Bogor
juga hotel banyak loh." Bisik Alya ke telinga Ivan.
Safefileku