KESEJAHTERAAN YANG TERTUNDA

Anonymous
61 x views • 3 years ago
Kabupaten Sabu Raijua merupakan salah satu Kabupaten Kota dari 22 Kabupaten Kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia yaitu Kabupaten yang paling belakang pulau seluruh Indonesia di bagian selatan.

Kabupaten Sabu Raijua resmi didirikan menjadi satu Kabupaten sendiri yang di mekar dari kabupaten Kupang pada tahun 2008 dengan jumlah 6 Kecamatan seluruhnya. Dari 6 Kecamatan tersebut memiliki 58 Desa dan 5 Kelurahan, 244 Dusun, 503 RW, 918 RT.

Pada dasarnya masyarakat mempunyai suatu keinginan untuk perubahan yang diberikan dan dipercayakan kepada para penguasa yang memiliki wewenang mengambil kebijakan yang dapat didengar oleh semua pihak. Sehingga saat ini masyarakat yang pernah bermimpi akan indahnya daerah ini, kesejahteraan masyarakat Sabu Raijua belum tampak dipenuhi.

Oleh karena itu maka lewat tulisan ini, masyarakat berharap agar meningkatkan pembangunan di Kabupaten Sabu Raijua yang paling utamanya seperti fasilitas umum, pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan, serta pelabuhan seba yang saat ini masih dibangun dengan kayu balok tersebut dapat dibangun secara permanen supaya bisa diakses kapal penumpang dan barang yang dimuat oleh ekspedisi seperti yang terjadi di pelabuhan Seba.

Beberapa kendala ini yang dialami masyarakat sabu raijua sehingga sulit lah melakukan segala sesuatu untuk mencari penghidupan sehari-hari dan hal yang paling penting juga dibahas dalam tulisan ini mengenai akses jalan yang tidak stabil dan BBM mahal sehingga saat ini masyarakat sabu raijua dipersulit oleh beberapa hal ini.

Kelangkaan BBM adalah hal yang tidak bisa dihindari oleh masyarakat di Kabupaten Sabu Raijua, karena masyarakat di Kabupaten Sabu raijua sepenuhnya memakai kendaraan bermotor untuk mencari penghidupan, seperti petani lahan kering untuk mengolah lahannya mengunakan teknologi traktor yang ada, masyarakat yang menanam sayur-sayuran pun menggunakan bahan bakar minyak seperti solar saat mengambil air dari dalam sumur untuk menyiram sayurannya menggunakan motor air, atau pun petani rumput laut yang merupakan suatu alat operasional dalam bekerja adalah sepeda motor. Saat ini pun harga bahan bakar minyak seperti solar dengan harga 150.000.00 satu jerigen berukuran 5 liter pertalite dan pertamax seharga 30.000.00/botol aqua 1,5 liter serta minyak tanah yang mencapai harga 50.000.00 satu jerigen 5 liter.

Jadi resiko yang dialami masyarakat Sabu Raijua sangat besar dan dari beberapa kendala tersebut selain dari kurangnya pendapatan dan besarnya pengeluaran yang mengakibatkan krisis ekonomi sudah terlalu lama dan sudah menjadi hal yang biasa dalam kehidupan masyarakat Kabupaten Sabu Raijua.

Setelah peneliti IRGSC bertanya-tanya soal pembangunan dan perkembangan ekonomi masyarakat Sabu Raijua, masyarakat juga mengatakan bahwa “tidak berbeda jauh dengan tahun 1998 sebelum ini, katanya.”

Dari hal-hal yang terjadi seperti ini yang seharusnya dapat dihindari oleh pengambil kebijakan yang telah dipercayakan atau diberikan kesempatan untuk mewakili masyarakat yang tak berdaya. Sehingga bagaimana caranya mendirikan pondasi yang kuat seperti rumah tinggal agar lantai dan keramik yang dibangun pun tidak dapat runtuh dan pecah-pecah dan bisa menjadi sebuah rumah yang layak dihuni.

Maka dari masalah pembangunan dan kelangkaan bahan bakar minyak serta meningkatnya harga sembako menjadi polemik juga bencana yang dilanda masyarakat Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur saat ini, sehingga harapan paling besar dari masyarakat umum agar mengurangi harga barang dengan cara memperlancarnya bahan bakar minya ke kabupaten sabu raijua dan membangun akses transportasi umum terlebih khususnya pelabuhan dan jalan raya supaya para pedagang pun tidak terlalu memperhitungkan soal biaya operasional dengan kerusakan alat transportasi yang mereka miliki untuk berbisnis.

Persoalan tersebut yang selama ini belum tercapai sehingga semua hal dan segala beban ditanggung oleh masyarakat kecil melalui harga sembako dan lain sebagainya.

Sehingga masyarakat sendiri merasa kecerdasan dan ketangguhan masyarakat telah dipres oleh pihak yang berkepentingan.

Jadi biasa pada saat kedatangan orang-orang dari luar kabupaten ke sabu raijua sering mengatakan bahwa uang lima ratus rupiah sampai seribu rupiah logam di Kabupaten Sabu Raijua tidak laku bukan berarti mengurangi nilai rupiah namun harga barang yang melampaui lebih tinggi dan tidak ada barang yang harga lima ratus rupiah sampai seribu rupiah untuk satu barang. Hal tersebut menurut masyarakat luar dari Kabupaten Sabu Raijua sering mengatakan luar biasa.

Penulis: Ngurkol
Jurnalis : IRGSC
Safefileku