Cerita Malam Pertama di Pondok Indah ku
Anonymous
284 x views • 5 years ago
Hari masih tidak terlalu malam saat para tamu undur diri. Tamu yang hanya sedikit semakin mempercepat proses dari ramai menuju sepi. Tapi tidak benar benar sepi. Masih kudengar suara suara dari arah ruang belakang yang hampir semuanya berubah fungsi menjadi dapur. Kadang mereka kompak tertawa bersama. Entah apa yang mereka tertawakan.
Sesekali aku mencuri pandang, menyapu wajahmu hanya dalam satu kali lirikan. Aku tahu, kaupun melakukan hal yang sama. Ya benar, ini memang waktu yang tepat bagi sepasang pengantin baru untuk diam diam saling memperhatikan.
Di saat yang lain, kita saling memandang dan melempar Tanya, kemudian menahan tawa. Semakin ditahan semakin membuat bibir kita tak kuasa mengeluarkan instrumen, jadinya malah mirip ringkikan seekor kuda. Bapak yang kebetulan sedang melintas spontan bertanya, “Onok opo rek?.” Kata kata itu hanya membuat wajah kau dan aku berubah menjadi merah padam.
23.11 WIB
“Lho ayo ini mantennya istirahat dulu, kok malah begadang.”
Itu adalah suara Be De Pik, kakak kandung dari Ibumu yang juga Ibu Mertuaku. Aku mengangguk dan melempar senyum. Lalu kau berkata, “Ayo Mas kita ke kamar.” Lagi lagi aku tersenyum (malam itu aku benar benar murah senyum) dan membalas ucapanmu. “Iya nduk, kamu duluan aja, nanti Mas nyusul.” Tak lama kemudian kau beranjak dan melangkah menuju kamar berkelambu yang memang disediakan untuk kita.
Ah, seharusnya tadi aku mengikuti saranmu, bathinku. Dan di sinilah aku sekarang, di ruang tengah di samping kanan televisi. Jarak antara posisiku dengan selambu kamar hanya beberapa langkah saja, tapi kenapa otak ini begitu sulit meremote dan menggerakkan kedua kaki? Padahal hati kecilku sudah mengirimkan pesan pada otak.
“Mas, istirahat dulu”, kali ini anjuran dari Bu De Pik tidak aku sia siakan. Segera aku bangkit dan menyusulmu ke kamar. Butuh keberanian ekstra untuk melangkah, sungguh aku tidak bohong.
Sesampainya di dalam kamar, aku menjumpai dua keindahan. Selain senyummu yang teramat manis, ada juga kudapati kain sprai warna ungu muda mengkilat. Perpaduan yang sempurna. Kau masih tersenyum saat aku mendekat. Sayangnya, aku tidak bisa berlama lama di dalam kamar. Aku lebih memilih kembali keluar kamar dan bergabung dengan Bapak Bapak yang berkumpul di teras depan rumah. Aku tahu ini pilihan yang sulit, tapi setidaknya itu solusi yang baik untuk meredam suara ehem ehem di luar kamar.
23.20 WIB
Awalnya gelisah, lama lama aku merasa nyaman ada diantara dulur dulur dan beberapa tetangga. Kakak kakak sepupumu pandai sekali memancingku untuk bercerita. Ada saja yang mereka tanyakan, mulai dari musik sampai masalah kuliner.
Pukul satu dini hari
“Istirahat dulu Le..”
Bapak menyuruhku istirahat. Aku beranjak dan pamit pada mereka yang masih bertahan begadang. Mereka tersenyum simpul. Senyum yang aneh, tapi nggak ada waktu lagi untuk memikirkannya. Kali ini aku benar benar merindukan kain sprai warna ungu muda mengkilat.
Sesampainya di kamar, aku terkejut, ternyata kau masih terjaga. Tidak seperti sebelumnya, bibirmu tak lagi membentuk perahu tampak samping. Kali ini aku hanya mendapati bibir yang kedua ujungnya melengkung ke bawah. Hmmm, ternyata kau menungguku.
01.11 WIB
Dan cicak cicak di dinding pun berdecak.. Seperti sedang turut merayakan kebahagiaan kita..
04.00 WIB
Saat Terdengar Adzan Subuh
Kau tertidur pulas di sampingku. Sementara aku masih belum memejamkan mata. Menit yang berlalu hanya aku gunakan untuk berpikir, bagaimana caranya agar aku bisa keluar kamar tanpa suara? Saat aku memutuskan untuk beranjak, kau terbangun. “Mau kemana Mas?”, aku hanya tersenyum sebelum kemudian kukatakan uneg uneg ini. “Ooow..” begitu jawabmu.
Sementara handuk kuselempangkan di bahu kiri, tangan kananku memegang gayung berisi peralatan mandi. Tak lama kemudian, aku sudah mengendap endap menuju kamar mandi, nyaris tanpa suara. Satu satunya yang membuatku berdebar hanyalah saat membuka pintu belakang dan ada suara kriek kriek. Syukurlah, tampaknya tidak ada yang mendengar itu.
Kau tahu, bahkan di dalam kamar mandi pun hati ini masih dag dig dug. Kukerahkan segala kemampuan dan kepandaianku yang pas pasan untuk melakukan prosesi mandi dengan meminimalisir suara. Dan aku rasa hasilnya cukup baik. Tinggal satu masalah lagi. Keluar kamar mandi dan sesegera mungkin melangkahkan kaki menuju kamar, berbenah dan sholat. Alhamdulillah, lagi lagi sukses. Tuhan benar benar mengabulkan doa mahluk-Nya yang mengikuti jejak Rosul.
07.33 WIB
Tibalah saatnya sarapan
Kau tampil cantik, seperti ingin mengalahkan pesona pagi. Sekuat tenaga aku mengimbangimu, pagi ini aku ingin terlihat menarik.
Orang orang menunggu kita di ruang belakang. Dan kesanalah kita melangkah. Pagi itu kau dan aku memang sangat merindukan sebuah kata bernama sarapan.
Sesampainya di ruang belakang, aku mendapati wajah wajah menyelidik, senyum yang aneh, dan beberapa kalimat yang lebih terdengar menggodam daripada menggoda. Sungguh, ini seperti uji nyali di acara televisi . Beratnya tiga kali lipat dibanding ketika aku mendaki puncak Mahameru.
Saat aku menatapmu, sangat tampak sekali jika kau tak lebih baik dariku. Ingin sekali aku bertanya padamu, “Sayang, kenapa semua pasang mata sebegitunya memandang rambutku yang masih terlihat basah?”
Di situasi yang seperti itu, kegilaan dengan mudah menghinggapi otakku. Ya ya ya, saat itu aku masih sempat sempatnya berpikir gila, “Andai aku yang berjilbab dan kau yang menjadi aku, mungkin ceritanya akan berbeda.”
Kelak pada saat semuanya berlalu, baru kusadari ternyata wajah wajah itu begitu mencintai kau dan aku, dan mereka sedang menciptakan pagi termanis untuk kita.