P
Anonymous
137 x views • 3 years ago
jarang terlibat langsung dalam pengembangan IPTEK, minimnya
industrialisasi, kurangnya inovasi yang berarti dalam masyarakat
Indonesia sendiri.
Meskipun demikian di sisi lain, terdapat beberapa aspek
pengetahuan dan teknologi yang dipelopori dan diperkenalkan
oleh pemerintah kolonial Belanda. Masyarakat diperkenalkan pada
persenjataan modern dari senjata ringan hingga senjata yang berat.
Teknologi lainnya yang digunakan dan diperlihatkan oleh kolonial
yakni kendaraan tempur dan transportasi lainnya. Ilmu pengetahuan
tersebut berasal dari negara Eropa yang kemudian pemerintah
kolonial menanamkan IPTEK melalui pendidikan baik di sekolah-
sekolah maupun dengan cara penggunaan secara langsung kepada
masyarakat di Hindia Belanda. Pasca kemerdekaan Indonesia,
perkembangan IPTEK berkembang pesat. Hal tersebut didorong
oleh terbukanya akses-akses untuk mendapatkan ilmu pengetahuan
bagi masyarakat Indonesia. Mereka mempelajari sedikit demi sedikit
di sekolah yang sudah dibuka untuk semua kalangan masyarakat.
Jejak IPTEK di Indonesia yang didapatkan dari masa kolonial
memudahkan masyarakat dalam melakukan aktivitas sehari-hari
sebut saja transportasi darat seperti kereta api yang telah dikenalkan
pemerintah kolonial pada abad ke-19, transportasi air seperti kapal
uap juga diperkenalkan pada abad-19. Adapula sistem pertanian
seperti limbah ternak untuk pupuk/kompos dan sistem irigasi. Dalam
bidang komunikasi masyarakat Indonesia diperkenalkan dengan
radio, televisi dan telepon.
4. Kesehatan dan Higienitas
Di samping teknologi, pemerintah kolonial pun mengeluarkan
kebijakan dalam bidang kesehatan dan higienitas. Awalnya pelayanan
kesehatan kolonial pada awal abad ke-20 memang sangat diskriminatif
karena hanya sebagian kecil dari rakyat pribumi yang mendapatkan jarang terlibat langsung dalam pengembangan IPTEK, minimnya
industrialisasi, kurangnya inovasi yang berarti dalam masyarakat
Indonesia sendiri.
Meskipun demikian di sisi lain, terdapat beberapa aspek
pengetahuan dan teknologi yang dipelopori dan diperkenalkan
oleh pemerintah kolonial Belanda. Masyarakat diperkenalkan pada
persenjataan modern dari senjata ringan hingga senjata yang berat.
Teknologi lainnya yang digunakan dan diperlihatkan oleh kolonial
yakni kendaraan tempur dan transportasi lainnya. Ilmu pengetahuan
tersebut berasal dari negara Eropa yang kemudian pemerintah
kolonial menanamkan IPTEK melalui pendidikan baik di sekolah-
sekolah maupun dengan cara penggunaan secara langsung kepada
masyarakat di Hindia Belanda. Pasca kemerdekaan Indonesia,
perkembangan IPTEK berkembang pesat. Hal tersebut didorong
oleh terbukanya akses-akses untuk mendapatkan ilmu pengetahuan
bagi masyarakat Indonesia. Mereka mempelajari sedikit demi sedikit
di sekolah yang sudah dibuka untuk semua kalangan masyarakat.
Jejak IPTEK di Indonesia yang didapatkan dari masa kolonial
memudahkan masyarakat dalam melakukan aktivitas sehari-hari
sebut saja transportasi darat seperti kereta api yang telah dikenalkan
pemerintah kolonial pada abad ke-19, transportasi air seperti kapal
uap juga diperkenalkan pada abad-19. Adapula sistem pertanian
seperti limbah ternak untuk pupuk/kompos dan sistem irigasi. Dalam
bidang komunikasi masyarakat Indonesia diperkenalkan dengan
radio, televisi dan telepon.
4. Kesehatan dan Higienitas
Di samping teknologi, pemerintah kolonial pun mengeluarkan
kebijakan dalam bidang kesehatan dan higienitas. Awalnya pelayanan
kesehatan kolonial pada awal abad ke-20 memang sangat diskriminatif
karena hanya sebagian kecil dari rakyat pribumi yang mendapatkan
akses pelayanan kesehatan ini.
Ketika bergulirnya politik etis, fokus perhatian pemerintah
kolonial Belanda berubah dengan bagaimana pelayanan kesehatan
kolonial dapat dinikmati oleh masyarakat secara meluas apalagi pada
saat itu wabah penyakit mulai menyebar, sebut saja malaria, pes dan
kolera. Ilmu kedokteran terus dikembangkan dan tidak sedikit rakyat
pribumi yang terlibat langsung di dalamnya. Pemerintah kolonial
mengeluarkan kebijakan untuk memfasilitasi pendidikan bagi para
tenaga medis melalui pelatihan bidan atau dukun bayi, pendirian
School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) atau disebut
sebagai “Sekolah Dokter Jawa” dan pendirian sekolah dokter lainnya.
Kebijakan itu melahirkan profesi baru di kalangan masyarakat
pribumi dalam dunia kesehatan yakni melahirkan Dokter Jawa dan
mantri kesehatan. Jika Dokter Jawa dibentuk melalui pendidikan
formal, mantri kesehatan dibentuk dengan pelatihan-pelatihan
khusus sesuai dengan bidang penyakit atau aspek kesehatan lain yang
menjadi tanggung jawabnya.
Diluar pembentukan dokter pribumi, fasilitas kesehatan dan
rumah sakit sudah didirikan sebelumnya. Tahun 1641, VOC sudah
mendirikan bangunan rumah sakit permanen di Batavia. Pemerintah
kolonial juga mulai membangun sarana dan prasarana pendukungnya,
sejalan dengan perkembangan perusahaan perkebunan di masa sistem
tanam paksa, sebut saja untuk memeriksa kesehatan tenaga kerja di
Jawa maupun di luar pulau Jawa diadakan pembangunan rumah sakit
perusahaan perkebunan, pertambangan, dan pelayaran.
Pada masa penjajahan Belanda, selain rumah sakit, berdiri
berbagai fasilitas kesehatan di berbagai daerah di Indonesia sebut
saja Laboratorium penelitian di Batavia yang berdiri tahun 1888
yang berdiri juga di Bandung, Medan, Makassar, Surabaya dan
Yogyakarta. Penanggulangan wabah penyakit juga mendapat
perhatian khusus pemerintah Belanda dengan membentuk suatu
dinas khusus pemberantasan penyakit seperti pada masa wabah
penyakit Pes. Pemerintah mendirikan dinas pemberantasan pes
(Pest Bestrijding).
industrialisasi, kurangnya inovasi yang berarti dalam masyarakat
Indonesia sendiri.
Meskipun demikian di sisi lain, terdapat beberapa aspek
pengetahuan dan teknologi yang dipelopori dan diperkenalkan
oleh pemerintah kolonial Belanda. Masyarakat diperkenalkan pada
persenjataan modern dari senjata ringan hingga senjata yang berat.
Teknologi lainnya yang digunakan dan diperlihatkan oleh kolonial
yakni kendaraan tempur dan transportasi lainnya. Ilmu pengetahuan
tersebut berasal dari negara Eropa yang kemudian pemerintah
kolonial menanamkan IPTEK melalui pendidikan baik di sekolah-
sekolah maupun dengan cara penggunaan secara langsung kepada
masyarakat di Hindia Belanda. Pasca kemerdekaan Indonesia,
perkembangan IPTEK berkembang pesat. Hal tersebut didorong
oleh terbukanya akses-akses untuk mendapatkan ilmu pengetahuan
bagi masyarakat Indonesia. Mereka mempelajari sedikit demi sedikit
di sekolah yang sudah dibuka untuk semua kalangan masyarakat.
Jejak IPTEK di Indonesia yang didapatkan dari masa kolonial
memudahkan masyarakat dalam melakukan aktivitas sehari-hari
sebut saja transportasi darat seperti kereta api yang telah dikenalkan
pemerintah kolonial pada abad ke-19, transportasi air seperti kapal
uap juga diperkenalkan pada abad-19. Adapula sistem pertanian
seperti limbah ternak untuk pupuk/kompos dan sistem irigasi. Dalam
bidang komunikasi masyarakat Indonesia diperkenalkan dengan
radio, televisi dan telepon.
4. Kesehatan dan Higienitas
Di samping teknologi, pemerintah kolonial pun mengeluarkan
kebijakan dalam bidang kesehatan dan higienitas. Awalnya pelayanan
kesehatan kolonial pada awal abad ke-20 memang sangat diskriminatif
karena hanya sebagian kecil dari rakyat pribumi yang mendapatkan jarang terlibat langsung dalam pengembangan IPTEK, minimnya
industrialisasi, kurangnya inovasi yang berarti dalam masyarakat
Indonesia sendiri.
Meskipun demikian di sisi lain, terdapat beberapa aspek
pengetahuan dan teknologi yang dipelopori dan diperkenalkan
oleh pemerintah kolonial Belanda. Masyarakat diperkenalkan pada
persenjataan modern dari senjata ringan hingga senjata yang berat.
Teknologi lainnya yang digunakan dan diperlihatkan oleh kolonial
yakni kendaraan tempur dan transportasi lainnya. Ilmu pengetahuan
tersebut berasal dari negara Eropa yang kemudian pemerintah
kolonial menanamkan IPTEK melalui pendidikan baik di sekolah-
sekolah maupun dengan cara penggunaan secara langsung kepada
masyarakat di Hindia Belanda. Pasca kemerdekaan Indonesia,
perkembangan IPTEK berkembang pesat. Hal tersebut didorong
oleh terbukanya akses-akses untuk mendapatkan ilmu pengetahuan
bagi masyarakat Indonesia. Mereka mempelajari sedikit demi sedikit
di sekolah yang sudah dibuka untuk semua kalangan masyarakat.
Jejak IPTEK di Indonesia yang didapatkan dari masa kolonial
memudahkan masyarakat dalam melakukan aktivitas sehari-hari
sebut saja transportasi darat seperti kereta api yang telah dikenalkan
pemerintah kolonial pada abad ke-19, transportasi air seperti kapal
uap juga diperkenalkan pada abad-19. Adapula sistem pertanian
seperti limbah ternak untuk pupuk/kompos dan sistem irigasi. Dalam
bidang komunikasi masyarakat Indonesia diperkenalkan dengan
radio, televisi dan telepon.
4. Kesehatan dan Higienitas
Di samping teknologi, pemerintah kolonial pun mengeluarkan
kebijakan dalam bidang kesehatan dan higienitas. Awalnya pelayanan
kesehatan kolonial pada awal abad ke-20 memang sangat diskriminatif
karena hanya sebagian kecil dari rakyat pribumi yang mendapatkan
akses pelayanan kesehatan ini.
Ketika bergulirnya politik etis, fokus perhatian pemerintah
kolonial Belanda berubah dengan bagaimana pelayanan kesehatan
kolonial dapat dinikmati oleh masyarakat secara meluas apalagi pada
saat itu wabah penyakit mulai menyebar, sebut saja malaria, pes dan
kolera. Ilmu kedokteran terus dikembangkan dan tidak sedikit rakyat
pribumi yang terlibat langsung di dalamnya. Pemerintah kolonial
mengeluarkan kebijakan untuk memfasilitasi pendidikan bagi para
tenaga medis melalui pelatihan bidan atau dukun bayi, pendirian
School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) atau disebut
sebagai “Sekolah Dokter Jawa” dan pendirian sekolah dokter lainnya.
Kebijakan itu melahirkan profesi baru di kalangan masyarakat
pribumi dalam dunia kesehatan yakni melahirkan Dokter Jawa dan
mantri kesehatan. Jika Dokter Jawa dibentuk melalui pendidikan
formal, mantri kesehatan dibentuk dengan pelatihan-pelatihan
khusus sesuai dengan bidang penyakit atau aspek kesehatan lain yang
menjadi tanggung jawabnya.
Diluar pembentukan dokter pribumi, fasilitas kesehatan dan
rumah sakit sudah didirikan sebelumnya. Tahun 1641, VOC sudah
mendirikan bangunan rumah sakit permanen di Batavia. Pemerintah
kolonial juga mulai membangun sarana dan prasarana pendukungnya,
sejalan dengan perkembangan perusahaan perkebunan di masa sistem
tanam paksa, sebut saja untuk memeriksa kesehatan tenaga kerja di
Jawa maupun di luar pulau Jawa diadakan pembangunan rumah sakit
perusahaan perkebunan, pertambangan, dan pelayaran.
Pada masa penjajahan Belanda, selain rumah sakit, berdiri
berbagai fasilitas kesehatan di berbagai daerah di Indonesia sebut
saja Laboratorium penelitian di Batavia yang berdiri tahun 1888
yang berdiri juga di Bandung, Medan, Makassar, Surabaya dan
Yogyakarta. Penanggulangan wabah penyakit juga mendapat
perhatian khusus pemerintah Belanda dengan membentuk suatu
dinas khusus pemberantasan penyakit seperti pada masa wabah
penyakit Pes. Pemerintah mendirikan dinas pemberantasan pes
(Pest Bestrijding).